Oleh: Ely Rahmawati, S.Pd
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh..
Sahabat Utsman semuanya, bagaimana kabarnya? Tentunya di masa Pandemi Covid 19 ini keadaan sehat adalah nikmat yang sangat luar biasa. Semoga kita semua diberi kesehatan dan umur panjang oleh Allah SWT, sehingga kita bisa mengumpulkan ladang pahala yang nantinya bisa kita tanam di syurga nanti. Aamiin..
Hari Aksara Internasional (HAI) atau Hari Literasi Internasional ( International Literacy Day/ ILD ) diperingati setiap tanggal 08 September. Peringatan tahunan tersebut bertujuan untuk mengingatkan pentingnya melek aksara / membaca kepada masyarakat dunia. Dengan membaca bisa membantu kita lebih cerdas dalam menyikapi fenomena hidup. Tidak mudah percaya tentang berita hoax dan tidak asal berkomentar sebelum membaca infomasi yang diterima secara utuh.
Ada 6 kemampuan literasi yang harus dimiliki generasi Indonesia, yaitu: 1) literasi baca tulis, 2) literasi numeris, 3) literasi sains, 4) literasi budaya, 5) literasi digital, 6) literasi finansial. Dimasa sekarang ini, budaya literasi sedang gencar-gencarnya dilakukan untuk mencetak individu yang tidak hanya cerdas dalam bidang akademik namun juga cerdas dalam bepikir secara kritis dan logis. Pelaksanaannya tidak hanya di bangku sekolah namun orang tua juga turut andil dalam menanamkan budaya literasi kepada anak.
Sekolah Utsman bin Affan pada jenjang Sekolah Dasar memperoleh piala penghargaan dari GMB Indonesia sebagai Sekolah Aktif Literasi Nasional. Ada 3 karya yang sudah dibukukan, yaitu yang berjudul “Kuncup Semangat dikala Fajar”, “Karya Bermakna Kala Pandemi Melanda”, dan “Jendela Masa Depan Harapan”. Sekolah Utsman juga mengadakan pekan literasi untuk anak-anak setiap satu tahun 2 kali, dengan target masing-masing jenjang berbeda. Progam tersebut berupa membaca buku dengan minimal beberapa halaman. Hal tersebut dilakukan untuk membiasakan anak-anak agar gemar membaca. Karena membaca merupakan jendela segala ilmu pengetahuan.
Mengenalkan budaya literasi bisa dimulai sejak anak usia dini. Karena menanamkan budaya literasi butuh pembiasaan secara berkelanjutan dan prosesnya bisa panjang. Pada anak usia dini istilah litrasi tidak harus anak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Namun, bisa juga berupa sekumpulan aktifitas anak dalam memaknai gambar dan bercerita. Dengan bercerita secara tidak langsung bisa mendekatkan akses buku-buku kepada anak. Buku bacaan dapat memperkaya pengetahuan bagi anak. Bisa dibaca secara langsung oleh anak atau dibacakan oleh orang tua/ guru.
Berikut adalah upaya untuk mengenalkan budaya literasi pada anak usia dini:
- Membuat kegiatan belajar yang menyenangkan bagi anak sehingga bisa meningkatkan minat belajarnya
- Menciptakan suasana yang kaya dengan keaksaraan, misalnya orang tua bisa bercerita dengan membacakan buku kepada anak
- Melengkapi fasilitas belajar dengan menghadirkan buku-buku yang menarik, full color, dan bergambar.
- Melakukan kegiatan literasi setiap hari dengan anak, bisa dengan membaca, bercerita, atau memaknai gambar.
- Melatih anak untuk menyelesaikan masalah sederhana
- Budaya literasi harus dimulai dari orang tua, karena anak hanya sebagai peniru ulung.
Keenam poin diatas bisa dilakukan orang tua/ guru dalam mengenalkan budaya literasi kepada anak. Karena literasi penting dilakukan dan memiliki banyak manfaat. Diantaranya: 1) anak dapat membaca, menulis, dan berhitung, 2) dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan logis anak, 3) menyiapkan anak untuk masuk dunia sekolah, 4) pelaksanaan budaya literasi akan berpengaruh pada prestasi anak.
Nah.. itu tadi ya Sahabat Utsman upaya yang dapat kita, selaku orangtua atau guru lakukan dalam mengenalkan budaya literasi pada anak usia dini. Supaya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik dan mampu berpikir secara kritis dan logis. Agar lebih bijak dalam menyikapi fenomena hidup..
Semangat membangun budaya literasi !
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
















Leave a Reply