Oleh Ust Qodrat Asyraf Rutbah M. Psi psikolog
Ada 5 generasi yang terbagi di masyarakat saat ini, yaitu generasi veteran (1928-1945), baby boomers (1946-1964), gen X (1965-1980), gen Y (1981-1995), dan Gen Z atau Gen Alpha (1996-2012). Namun ada yang membedakan yaitu Gen Z (1996-2010), dan Gen Alpha (2011-2024)[1]. Istilah Gen Alpha dimuculkan oleh McCrindle tahun 2019.[2] Penulis lebih sepakat dengan pembedaan ini karena karakteristiknya memang berbeda.
Pengelompokan generasi ini disebabkan setiap orang secara signifikan dipengaruhi oleh suatu kejadian, pengalaman, lingkungan, perubahan sosial serta konteks sejarah yang secara aktif melibatkan mereka pada masa atau periode tertentu yang kemudian mempengaruhi cara berpikir atau cara pandang dalam melihat sesuatu serta mempengaruhi tingkah laku. Oleh karena itu seseorang yang lahir pada tahun yang sama dan mengalami suatu kejadian atau sejarah yang sama, kemungkinan besar akan memiliki karakter yang sama pula, hal ini sesuai pendapat Manheim (1928).
Peluang dan Tantangan
Sumber data BPS (Badan Pusat Statistik) 2020 jumlah penduduk Indonesia adalah 270,203 juta. [3] Usia pra sekolah siswa adalah sejak usia 5 tahun, lalu mulai sekolah dasar di usia 7 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun maka rentang usia siswa pelajar adalah 5 s/d 19 tahun berjumlah 66,6029 juta pelajar. Kelak 15 tahun di tahun 2045 mereka memasuki generasi emas Indonesia.
Apabila dibagi berdasarkan usia generasi maka diperoleh sebagai berikut :
Penduduk Indonesia Berdasarkan Generasi
| Gen Boomer
Usia 55-74 |
Gen X
Usia 40-54 |
Gen Y (Milineals)
Usia 25-39 |
Gen Z
Usia 10-24 |
Gen Alpha
Usia < 10 |
|
| Jumlah (dlm ribuan) | 35.338,3 | 53.712 | 65.171,4 | 67.190,9 | 44.166,9 |
Sumber : BPS, 2020
Bila berbicara tentang Generasi Emas Indonesia adalah berbicara dengan generasi Z dan Alpha sebab mereka adalah aktor utamanya. Seperti apakah kualitas para pemuda Indonesia saat itu, dan sekali lagi para pemuda dipertanyakan kembali sudah siapkah mereka mengemban tanggung jawab mereka sebagai seorang pemuda. Sebagai aktor utamanya, generasi Z dan Alpha harus memiliki memiliki wawasan mengenai visi/cita-cita Indonesia Emas 2045 itu sendiri dan tentu kondisi saat ini dan akan datang yang akan mereka hadapi.
Di Indonesia dikenal dengan Laporan Index Pembangunan Manusia (IPM) versi BPS (Badan Pusat Statistik). Rilis Human Development Index (HDI) versi UNDP tahun 2019, Indonesia berada di peringkat 6 ASEAN dan 111 di dunia dari 189 negara.[4]
Peringkat Programme for International Student Assessment (PISA) Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 berada dalam urutan bawah. Untuk nilai kompetensi Membaca, Indonesia berada dalam peringkat 72 dari 77 negara. Untuk nilai Matematika, berada di peringkat 72 dari 78 negara. Sedangkan nilai Sains berada di peringkat 70 dari 78 negara. Nilai tersebut cenderung stagnan dalam 10 – 15 tahun terakhir.[5]
Data-data ini mestinya membuat kita sebagai bangsa harus segera memperbaiki diri dalam pembangunan manusianya bila tidak ingin tertinggal dengan bangsa lain, dan terlebih bila ingin menjadi pemimpin dunia. Indonesia diprediksi mulai 2010 – 2035 kita akan mendapatkan “bonus demografi” yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat berubahnya struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja kepada penduduk usia kerja.[6]
Kabar baiknya, Indonesia berpeluang masuk ke 5 negara di dunia dengan ekonomi terbesar pada tahun 2045 mendatang. Pada tahun 2045, jumlah penduduk Indonesia mencapai 309 juta orang degan angka Pendapatan Domestik Bruto (PDB) mencapai 29 ribu dolar AS per tahun. Dengan kondisi ini, Indonesia mempunyai peluang untuk dapat menikmati bonus demografi ini, Perubahan struktur ini memungkinkan bonus demografi tercipta karena meningkatnya suplai angkatan kerja (labor supply), tabungan (saving), dan kualitas sumber daya manusia (human capital). Di Indonesia, rasio ketergantungan telah menurun dan melewati batas di bawah 50 persen pada tahun 2012 dan mencapai titik terendah sebesar 46,9 persen antara tahun 2028 dan 2031.
Indonesia mempunyai potensi untuk memanfaatkan bonus demografi baik secara nasional maupun regional. Penduduk usia produktif Indonesia sendiri menyumbang sekitar 38 persen dari total penduduk usia produktif di ASEAN. Tingginya jumlah dan proporsi penduduk usia kerja Indonesia selain meningkatkan angkatan kerja dalam negeri juga membuka peluang untuk mengisi kebutuhan tenaga bagi negara-negara yang proporsi penduduk usia kerjanya menurun seperti Singapura, Korea, Jepang dan Australia.[7]
Kondisi Abad 21
Saat ini berada di revolusi industri 4.0 yang secara fundamental akan mengubah cara kita hidup, bekerja, dan berhubungan satu sama lain. Dalam skala, cakupan, dan kerumitannya, transformasi tidak akan seperti apa pun yang dialami manusia sebelumnya. Kita belum tahu bagaimana hal itu akan terungkap, tetapi satu hal yang jelas: respons terhadapnya harus terintegrasi dan komprehensif, melibatkan semua pemangku kepentingan dari pemerintahan global, dari sektor publik dan swasta hingga akademisi dan masyarakat sipil.
Revolusi Industri Pertama menggunakan tenaga air dan uap untuk memekanisasi produksi. Kedua menggunakan tenaga listrik untuk membuat produksi massal. Yang ketiga menggunakan elektronik dan teknologi informasi untuk mengotomatisasi produksi. Sekarang Revolusi Industri 4.0 sedang membangun di atas yang ketiga, revolusi digital yang telah terjadi sejak pertengahan abad terakhir. Ini dicirikan oleh perpaduan teknologi yang mengaburkan garis antara bidang fisik, digital, dan biologis.[8] Sekarang 2021, dunia sudah mulai menyiapkan Revolusi Industri 5.0.
Untuk menjadi pemain apalagi pemimpin dunia, maka perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dunia, termasuk ketrampilan atau skill yang mesti dibekalkan kepada anak didik. Saat ini terjadi kesenjangan antara ketrampilan yang dipelajari di bangku sekolah dengan kebutuhan masyarakat dunia. Belum lagi ketimpangan kualitas sekolah dan guru hingga sumber daya yang dimiliki sekolah tersebar di Indonesia. Namun perbaikan harus terus dilakukan khususnya sekolah untuk mewujudkan generasi emas masa depan.
Pada 2030 diperkirakan hampir 70% penduduk Indonesia akan berada di usia produktif, yaitu usia antara 15 hingga 64 tahun. Pada saat ini adalah titik yang tepat untuk mulai bersama-sama usaha strategis dan bertanggung jawab, yang dapat memanfaatkan bonus demografi agar bisa memberikan manfaat bagi bangsa.[9] Ini peluang besar bangsa kita agar menjadi pemimpin dunia. Daya kewirausahaan yang tinggi bisa jadi penciptaan entrepreneur baru dan jadi titik awal entepreneur go global. Kesempatan besar ini menentukan kita menjadi “subyek” atau malah menjadi “obyek.”
Menurut framework 21-st Century Education yang dikembangkan oleh World Economic Forum (WEF) 2015, ada 16 keterampilan penting yang perlu disiapkan dan dimiliki anak-anak agar mereka berhasil survive masa sekarang dan akan datang. Enam belas keterampilan terbagi 3 kelompok besar, yaitu foundational literacies (literasi dasar), competencies (kompetensi), dan character qualities (pendidikan karakter). [10] Inilah yang mulai dipahamkan kepada guru dan diajarkan kepada anak didik.
Foundationan literacies atau literasi dasar adalah keterampilan yang terkait dengan kemampuan anak menerapkan keterampilan inti dalam tugas sehari-hari.
Keterampilan yang terkait literasi dasar terdiri:
- Literacy(literasi, keterampilan terkait teks dan bahasa)
- Numeracy(numerasi, keterampilan berkaitan dengan angka)
- Scientific literacy(literasi saintifik, keterampilan berkaitan dengan cara berfikir ilmiah)
- ICT literacy(keterampilan berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi)
- Financial literacy(literasi keuangan, keterampilan terkait dengan pengambilan keputusan terkait keuangan pribadi)
- Cultural and civic literacy(keterampilan terkait dengan pemahaman budaya dan hak-kewajiban sebagai warga negara)
Competencies adalah keterampilan yang terkait dengan kemampuan anak menghadapi dan menangani tantangan kompleks yang ada di hadapannya. Keterampilan yang terkait kompetensi adalah:
- Critical thinking/problem-solving(keterampilan berfikir kritis dan memecahkan masalah-masalah yang ada di hadapannya)
- Creativity(kreativitas, keterampilan menggunakan sudut pandang dan solusi baru untuk menyelesaikan tantangan)
- Communication(keterampilan berhubungan dengan kapasitas komunikasi dengan beragam orang yang berbeda)
- Collaboration(keterampilan berhubungan dengan kapasitas melakukan sinergi dan kolaborasi dengan anggota tim untuk mencapai tujuan bersama)
Character qualities adalah kualitas karakter adalah keterampilan yang terkait dengan diri, antara lain:
- Curiosity(keterampilan berkaitan rasa ingin tahu alamiah untuk mencari tahu tentang hal-hal baru yang terjadi di sekitarnya)
- Initiative(keterampilan terkait dengan kapasitas memulai sebuah hal atau berinisiatif tanpa menunggu perintah dari orang lain)
- Persistence/grit(keterampilan berkaitan dengan manajemen diri yang mampu mengatasi masalah hingga akhirnya bertahan dan bisa menyelesaikan hingga akhir)
- Adaptabilitas(keterampilan berkaitan dengan kapasitas menyesuaikan diri dan kelenturan menghadapi perubahan eksternal yang terjadi)
- Leadership(keterampilan untuk memimpin kelompok menuju tujuan bersama)
- Social and cultural awareness(keterampilan mengenali dan menyikapi keragaman fenomena sosial dan budaya)
Tantangan lain adalah transformasi digital dimasa depan dalam berbagai sektor. Beberapa pekerjaan akan mengalami disturbing atau pergesran/pengalihan. Keinginan orang atau customer yang mendambakan kecepatan, ketepatan dan kenyamanan pada akhirnya memang membuat industri-industri ikut serta terdisturb.
Rilis World Economic Forum (WEF) 2020 menyebut tahun 2025 ada 50% pekerja harus melakukan upgrade digital literacy, lalu memperkirakan 85 juta pekerjaan terjadi pergeseran pembagian kerja antara manusia dan mesin. Tetapi akan lebih banyak pekerjaan – 97 juta – mungkin muncul dengan menyesuaikan pembagian kerja baru antara manusia, mesin, dan algoritma.[11]
WEF merilis 10 skill utama dengan 4 kategori yang dibutuhkan pada tahun 2025 yaitu : Problem Solving, Self Management (Berfikir analitis dan inovatif, Pembelajar aktif dan strategis, Penyelesai masalah komplek, Berfikir kritis dan analis, Kreatif dan inisiatif), Working with people (Kepemimpinan dan pemberi pengaruh sosial, Tangguh dan fleksibel terhadap tekanan, Argumentatif dan ide solutif), Technology Use and Development (Pengguna teknologi, monitoring, dan kontrol, Desain Teknologi dan programer)
Melatih 10 Skill Utama Abad 21
Sekolah memulai dari memahamkan guru tentang 10 skill utama ini, lalu diajarkan kepada siswa yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Ditengah keunggulan dan keterbatasan sekolah, maka sekolah melakukan analisa SWOT untuk membuat skala prioritas aspek skill yang menjadi keunggulan yang nantinya digarap dengan terkonsep hingga menjadi differensiasi sekolah. Sekolah bisa memilih dua skill prioritas yang bisa memberi dampak besar bagi sekolah. Sesuai Hukum Pareto: Formula 80/20 yang dapat diterapkan dalam seluruh sendi kehidupan Prinsip menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya.[12]
Skill-skill utama itu jika disederhanakan maka bisa kita ajarkan kepada anak didik dalam materi enteprenuership/kewirausahaan. Untuk itu, setiap siswa yang telah dibekali dengan keterampilan hidup (life skills) dan kewirausahaan (entrepreneurship), sehingga dapat meringankan beban keluarga dan masyarakat yang telah berat.
Perbedaan generasi yang mencolok antara Yayasan, Guru, Walimurid, dan siswa. Karakteristik tiap generasi yang berbeda bisa menjadi masalah sendiri apabila tidak disolusikan. Setiap warga sekolah harus memiliki pemahaman psikologis tentang karakteristik generasi Z dan Alpha serta cara mengajar efektif mereka. Demikian juga harus memahami generasi X, Y atau bahkan generasi boomers.
Idealnya setiap sekolah memiliki psikolog. Apabila belum memiliki maka upgrading guru dengan seminar dan pelatihan materi psikologi. Tugas psikolog sekolah menjadi patner guru dalam memberikan bimbingan dan konseling agar proses belajar mengajar menjadi efektif efisien, menjadi patner Kepala sekolah dalam membuat keputusan terkait program kegiatan sekolah yang bisa mengintegrasikan kompetensi dan peningkatan ketrampilan abad 21.
Tugas besar ini tidak bisa diselesaikan kepala sekolah saja, butuh kerjasama yang baik stake holder sekolah meliputi Yayasan, Komite, Pelaku/Pemerhati Pendidikan, dan masyarakat. Kepala Sekolah memiliki tanggungjawab besar menjadi “direjen” orkestrasi proses ini di sekolah.
[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Generasi_Z
[2] https://mccrindle.com.au/insights/blogarchive/why-we-named-them-gen-alpha/
[3]https://www.bps.go.id/indikator/indikator/view_data_pub/0000/api_pub/YW40a21pdTU1cnJxOGt6dm43ZEdoZz09/da_03/1
[4] https://www.cnbcindonesia.com/news/20200217142358-4-138395/ipm-ri-naik-tapi-masih-kalah-sama-tetangga
[5] https://edukasi.kompas.com/read/2020/04/05/154418571/nilai-pisa-siswa-indonesia-rendah-nadiem-siapkan-5-strategi-ini?page=all
[6] Kemendikbud RI, Peta Jalan Generasi Emas 2045, 2017, hal.10
[7] Kemendikbud, Peta Jalan Generai Emas Indonesia 2045, hal. 7
[8] https://accurate.id/bisnis-ukm/revolusi-industri-4-0-pada-bisnis/
[9] https://www.wartaekonomi.co.id/read319329/bonus-demografi-peluang-yang-bisa-jadi-bumerang
[10] https://www.weforum.org/agenda/2016/03/21st-century-skills-future-jobs-students/
[11] https://www.weforum.org/agenda/2020/10/top-10-work-skills-of-tomorrow-how-long-it-takes-to-learn-them/
[12] https://id.wikipedia.org/wiki/Prinsip_Pareto

















Leave a Reply