Oleh: Rohayati, M.Pd dan Lala A. Rukmana, S.Pd
Banyak anak muda tidak mengetahui sejarah valentine, membuat mereka berbondong-bondong merayakannya baik di rumah, restoran ataupun hotel. Dinner romantis pun menjadi wajib atau bahkan memberikan coklat dan bunga sebagai tanda kasih sayang.
Seandainya saja mereka mengetahui sejarah valentine, mungkin mereka akan malu merayakannya. Berikut paparan singkat mengenai sejarah valentine; sejarah datang dari seorang pendeta Roma bernama Valentine, yang memiliki akhir tragis. Legenda ini menceritakan bahwa Valentine dipukuli dan berakhir dipancung pada tanggal 14 Februari 278 Masehi. Bentuk eksekusi ini merupakan sebuah hukuman karena pendeta Valentine dianggap menentang kebijakan seorang Kaisar bernama Claudius II (Detik.com). Apakah setelah mengetahui sejarah ini, umat muslim masih berkehendak merayakannya?
Islam memandang kasih sayang tanpa mengenal hari dan tanggal. Allah berfirman, ”… sekiranya kalian infakkan semua kekayaan yang ada di bumi, niscaya kalian takkan mampu mempersatukan hati-hati mereka (manusia), tetapi Allah lah yang mempersatukan hati mereka …” (QS Al-Anfal [8]: 63). Sangat jelas Allah menyampaikan bahwa kasih sayang bukan karena hari, tanggal, dinner time dan segala ritualnya.
Allah telah mengimplikasikan bahwa kasih sayang yang tulus hendaknya berlandaskan pada ikatan cinta kepada Rabb-nya karena ikatan cinta dan sayang karena Allah akan mempersatukan hati dan iman para pecinta-Nya.
Sahabat Utsman, maka hendaknya kita mengasihi dan menyayangi sesama tidak hanya melihat hari dan tanggal. Tetapi, di manapun dan kapanpun kita harus saling mengasihi dan menyayangi atas dasar iman. Rasulullah pun menganjurkan agar umat Islam saling berkasih sayang, berempati, dan peduli satu sama lain dengan salah satu caranya yaitu memberi hadiah. Hadiah bisa memberi kesan perdamaian, rasa cinta, empati, dan penghargaan yang mampu mempererat silaturahmi, karena persaudaraan harus ditanamkan dan dikuatkan. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR Al-Bukhari).
Oleh karena itu, bertepatan dengan tanggal 14 Februari komunitas muslim mencetuskan Hari Gerakan Menutup Aurat (HGMA) di seluruh dunia. Hal ini dilakukan selain mengalihkan perayaan hari valentine yang notabene negatif juga untuk membagikan jilbab sebagai tanda cinta untuk menutup aurat yang wajib hukumnya bagi muslimah.
Sebagaimana cinta kami para ustadz/ustadzah Sekolah Utsman bin Affan dalam membimbing dan mendidik ananda menjadi pribadi yang sholih/sholihah. Kami tidak mengistimewakan tanggal tertentu untuk mencurahkan kasih sayang dalam mengarahkan ananda untuk mencapai visi Sekolah Utsman; Qurani Berprestasi.
Sebagai contoh program ICP yang mengapresiasi kemenangan group siswa. Banyak pelajaran dan cinta yang mereka dapatkan dalam sistem belajar Kolaborasi yang mengedepankan team work dan problem solving.
Pun wali murid yang menghargai kinerja ustadz/ustadzah dengan memberikan apresiasi sebagai bentuk tanda sayang dan ucapan terima kasih.
“Berjalanlah beriringan bersama kami untuk membersamai anak-anak menjadi Generasi Rabbani”














Leave a Reply